Menjelang berjalannya Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) tahun ajaran 2026/2027, murid SMA Negeri 1 Pleret tetap menjalankan kegiatan literasi sebagai bagian dari rutinitas sekolah. Pada hari Rabu pagi, 16 September 2026, tepatnya pagi hari pukul 07.30, murid kelas X Fase E2 dan XII Fase F5 yang berada di Ruang 9 mengikuti kegiatan rutin Literasi membaca Al-Qur’an. Mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta bersama Ibu Ristina Ferawati, S.Si. turut mendampingi pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembiasaan di lingkungan sekolah yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam pengembangan karakter dan kebiasaan positif murid.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan arahan melalui pengeras suara sekolah mengenai surat yang akan dibaca. Murid kemudian menyiapkan Al-Qur’an masing-masing sebelum kegiatan literasi dimulai. Mahasiswa berperan dalam mendata murid yang tidak membawa Al-Qur’an, mengingat sekolah telah menginformasikan dan mewajibkan murid untuk selalu membawa Al-Quran dalam kegiatan literasi pagi. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa juga turut membantu mengondisikan murid agar kegiatan berjalan dengan terstruktur. Literasi dilakukan selama 15 menit sebelum Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) dimulai.
Menurut Ibu Syamsiyah, S.Pd.I., M.Pd. selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, kegiatan literasi Al-Qur’an yang dilaksanakan sebelum pembelajaran maupun ASTS merupakan bagian dari pembiasaan yang diterapkan di SMA N 1 Pleret. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada murid mengenai pentingnya membangun karakter melalui kebiasaan positif sebelum memulai kegiatan akademik. Sebelumnya, kegiatan literasi di SMA Negeri 1 Pleret sudah pernah dilaksanakan berdasarkan jadwal tertentu. Hari selasa dan kamis dilaksanakan literasi Bahasa Indonesia, sementara itu, literasi kitab suci dilaksanakan pada hari Rabu dan Jumat. Pada kegiatan literasi Bahasa Indonesia, murid diwajibkan membawa buku bacaan masing-masing. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat kendala ketika guru pada jam pertama tidak dapat mendampingi sehingga kegiatan membaca kurang berjalan. Kondisi tersebut kemudian mendorong sekolah mengubah kegiatan literasi Bahasa Indonesia menjadi literasi Al-Qur’an yang wajib dilaksanakan setiap pagi. “Tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa kita harus memiliki karakter, yaitu sebelum mengawali pembelajaran, baik itu ujian maupun pembelajaran biasa, diwajibkan untuk membaca Al-Qur’an. Itu termasuk pembiasaan yang baik yang dilakukan di sekolah kita,” jelas Ibu Syamsiyah, S.Pd.
Kegiatan literasi ini menunjukkan bahwa rutinitas sekolah tetap dapat dilaksanakan di Tengah agenda akademik seperti Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS). Bagi murid, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk tetap menjalankan kebiasaan yang telah diterapkan secara konsisten. Sementara bagi mahasiswa PK, Keterlibatan ini menjadi pengalaman untuk memahami pelaksanaan program sekolah sekaligus berinteraksi dengan murid dalam situasi di luar kegaiatan pembelajaran. Penerapan kebiasaan tersebut turut mendukung SDGs nomor 4 dengan memberikan ruang bagi pengembangan karakter sebagai bagian dari proses Pendidikan.
Kedepannya, kegiatan literasi diharapkan dapat tetap menjadi bagian dari rutinitas sekolah dan dapat dilaksanakan secara konsisten dalam berbagai situasi. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat membantu mempertahankan kebiasaan positif murid sekaligus mendukung terciptanya lingkungan Pendidikan yang mendukung perkembangan akademik dan karakter.
By: Alya Nabila Putri_Pendidikan Sejarah_UNY 2026
